LAPORAN
STUDI LAPANGAN
KEANEKARAGAMAN LUMUT DAN JAMUR DI CANGAR (BATU, MALANG)
Dosen
Pengampu :
Drs.Sulisetjono, M.Si
Ainun Nikmati Laily,
M.Si
Oleh
:
1. Lusi
Agita Rahmawati (11620008)
2. Yuni
Ma’rifatul A (11620016)
3. Yuyun
Handayani (11620024)
4. Uun
Nurdiansyah (11620034)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara Indonesia adalah negara yang subur dan
kaya akan sumber daya alam. Dengan banyaknya sumber daya alam,maka salah satu
kekayaan alam yang bisa kita manfaatkan adalah sumber daya alam hayati. Lumut
dan jamur adalah salah satunya, selain dapat di manfaatkan, dua jenis ini juga
dapat dijadikan objek penelitian dalam bidang-bidang tertentu.
Sering kita menjumpai adanya tumbuhan lumut dan
jamur.Apalagi dalam situasi yang lembab dan basah.Biasanya kita menjumpai pada
semak-semak ataupun menempel pada substrat tertentu. Pernyataan tersebut sudah
termasuk dalam habitat dari lumut dan jamur yang akan kami bahas ini.
Jamur dan lumut yang akan dibahas adalah
mengenai klasifikasi, habitat, struktur tubuh, perkembangbiakan dan peranan
dari setiap lumut dan jamur ataupun hal lain yang berkenaan dengan jenis ini.
Semoga dari hasil pengamatan dari tugas studi lapangan ini dapat bermanfaat dan
berguna untuk kedepannya. Amien..
1.2 Tujuan
Tujuan
diadakannya studi lapangan ini adalah sebagai berikut :
1.
Studi lapangan keanekaragaman lumut dan jamur yang
berhabitat di Cangar, Batu, Malang.
1.3 Manfaat
Manfaat diadakannya studi lapangan ini adalah
sebagai berikut :
1.
Mahasiswa mampu mengetahui macam-macam lumut
dan jamur yang ditemukan
2.
Mahasiswa mampu mengelompokkan dalam setiap lumut
dan jamur pada golongan divisi-nya
BAB II
METODOLOGI
2.1 Waktu dan Tempat
Tugas Studi
Lapangan untuk memenuhi tugas mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah ini
dilaksanakan pada hari Minggu yang bertepatan pada tanggal 2 Desember 2012
pukul 08.00 - selesai WIB di Cangar, Batu, Malang.
2.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam studi lapangan kali ini
adalah sebagai berikut:
1.
Amplop
2.
Kamera
2.3 Cara Kerja
Langkah-langkah
yang dilakukan sebelum pengamatan dilakukan dalam studi lapangan ini adalah
sebagai berikut:
1.
Disiapkan peralatan yang akan digunakan
2.
Diambil gambar pada setiap spesies yang
ditemukan
3.
Diambil spesies jika jumlah spesies pada tempat
itu dijumpai jumlah spesies yang banyak
4.
Diletakkan pada amplop yang sudah disediakan
5.
Diidentifikasi setiap spesiesnya
6.
Hasil
BAB III
HASIL
3.1 Amanita muscaria
3.1.1 Gambar Hasil Pengamatan
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam,
1992)
|
3.1.2 Klasifikasi
Klasifikasi (Birsyam, 1992)
:
Kingdom Fungi
Divisi Basidiomycota
Kelas Agaricomycetes
Ordo Agaricales
Famili Amanitaceae
Genus Amanita
Spesies Amanita muscaria
3.1.3 Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang di lakukan dapat diketahui
bahwa Amanita muscaria, kami temukan pada bebatuan.Jamur ini hidup pada
tempat yang lembab atau basah.Jamur ini ditemukan dalam keadaan menempel pada
bebatuan yang basah ataupun lembab.
Jamur Amanita muscaria ini termasuk dalam divisi
Basidiomycota.Divisi ini sebagian besar makroskopis dan sering dijumpai di
tanah dan di hutan.Ciri utamanya hifa septat dengan sambungan apit (clamp
connection); spora seksualnya terbentuk pada basidium yang berbentuk gada.Divisi
ini terdiri dari beberapa kelas, diantaranya ialah kelas Hymenomycetes, ordo
Agaricales, family Agariceae, yang mencakup jamur-jamur berlamela atau memiliki
keping lipatan.
Amanita muscaria
adalah jamur beracun yang termasuk ke dalam golongan basidiomycota.
Jamur ini memiliki warna yang bervariasi, mulai dari merah terang, jingga,
kuning, hingga putih. A. muscaria dapat
ditemukan di berbagai daerah di seluruh dunia karena jamur ini mampu tumbuh di
berbagai suhu, mulai dari suhu dingin seperti di kutub hingga daerah tropis
sekalipun. Namun, ciri khas dari jamur ini adalah
adanya bercak-bercak putih di bagian kepala. A. muscaria memang terkenal
sangat beracun karena dalam 2-3 jam setelah menghirup jamur ini dapat terjadi diare,
vertigo,
koma,
muntah, dan beberapa efek
lainnya. Pada bagian tubuh buah dari jamur ini,
terdapat senyawa asam ibotenat
dan muscimol yang bersifat halusinogen
dan psikoaktif. Senyawa
tersebut dapat mempercepat mengganggu sistem saraf,
denyut
jantung, mulut kering, dan halusinasi.
Berdasarkan
literature diatas dapat diketahui bahwa hasil pengamatan dengan literature yang
ada adalah sesuai bahwa dalam jamur Amanita muscaria termasuk dalam
divisi basidiomycota. Dan persamaan yang lain terlihat bahwa dalam jamur ini
terlihat adanya bercak-bercak putih di bagian kepala.
3.2 Anthoceros sp.
3.2.1 Gambar Hasil Pengamatan
|
Gambar pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam, 1992)
|
3.2.2 Klasifikasi
Klasifikasi
(Birsyam, 1992) :
Kingdom Plantae
Divisi
Bryophyta
Kelas
: Anthocerotopsida
Bangsa
: Anthocerotales
Suku
: Anthocerotaceae
Marga
: Anthoceros
Jenis : Anthoceros
sp.
3.2.3 Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan dapat diketahui bahwa dalam Anthoceros sp. ini ditemukan
hidupnya menempel pada batang kayu.Lumut jenis ini termasuk dalam divisi
Bryophyta.
Ciri umum tumbuhan lumut adalah
sebagai berikut ( Tjitrosupoemo,1989):
a)
Tumbuhan kecil, mempunyai talus (akar, batang dan daun
sukar dibedakan)
b)
Sporofit kekal melekat pada gametofit
c)
Tinggi kurang daripada 15 cm
d)
Gametofit Bryophyta mempunyai bentuk badan seperti
daun
e)
Tumbuhan gametofit mempunyai struktur berfilamen
seperti akar yang disebut rhizoid
f)
Rhizoid melekatkan tumbuhan kepada batuan atau
substrat yang lain.
- Periode gametofit( Edjang,
2006):
- Struktur luar
Talus kecil, berwarna hijau gelap
atau hijau kekuningan, ipih, terbagi atas daerah dorsal danventral, percabangan talusnya tidak teratur
sehingga tidak terdapat rusuk, pada permukaan ventral tidak di temukan adanya
sisik, rhizoid bersekat tidak sempurna dan
bulu-bulu mucilage, tapi banyak rhizoid berdinding
halus yang berfungsi sebagai alat untuk menempel pada substrat dan juga untuk
mengabsorbsi air dan zat hara. Pada bagian vetral terdapat bintil-bintil
berwarna hijau kebiruan yang merupakan koloni nostoc karena berisi nostoc,
suatu jenis alga biru.
- Struktur dalam
Talus tersusun dari beberapa sel,
tanpa adnya rusuk.Tidak terdapat batasan yang jelas mengenai daerah penyimpanan
makanan dengan daerah fotosintesis sel penyusun talus untuk bentuk dan ukurannya sereagam dan padat
dan masing-masing sel mempunyai kloroplas. Adanya rongga mucilage yang
berfungsi untuk aerasi. Seringkali pada ringga terdapat koloni noctoc atau yang
di sebut dengan filament nostoc dan pirenoid terletak pada bagian tengah
kloroplas yang besar(Edjang, 2006).
- Periode sporofit
Pada awal perkembangbiakan sporofit,
terjadi pertumbuhan sel-sel di bagian perut arkegonium membentuk kaliptra yang
merupakan suatu selubung yang menutupi sporofit dapat di bagi menjadi tiga
bagian yaitu: kaki, daerah intermediate, kapsula( Etdjang,2006).
Kapsula meliputi bagian-bagian kolumna, jaringan
sporogen dan dinding kapsula. Pada p[reparat dinding kasula, merupakan bagian
terluar dari kapsula. Tebalnya4-6 lapis sel. Dinding kapsula dibagi menjadi 2 lapis,
yaitu epidermis dan lapisan dalam yang bersifat klorenkim( Campbell,
2002).
- Reproduksi( Campbell,
2002):
Reproduksi gametofit
- Persisten apical
- Persepsi seksual
Anteridium terbentuk lebuh dahulu
diikuti oleh pembentukan arkegonium. Fertilisasinya jika pada lingkungan yang cukup
air, sel-sel saluran leher dan perut akan melebur, dan saluran akan berisi
lender. Yang terakhir ini akan menyerap air hingga menggembung, mengakibatkan
menekan sel-sel penutup sehingga lepas. Sperma masuk→pembuahan→pembentukan
zigot(
Ca,pbell,2002).
Dalam
kehidupan, tumbuhan lumut juga memiliki manfaat, diantaranya adalah( Campbell,
2002):
a.
Dalam ekosistem yang masih alami, lumut merupakan
tumbuhan perintis karena dapat melapukkan batuan sehingga dapat di tempati oleh
tumbuhan yang lain
b.
Lumut dapat menyerap air yang berlebih, sehingga dapat
mencegah terjadinya banjir
c.
Memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia
oksigen
d.
Sebagai penyimpan air (karena sifat selnya yang
menyerupai spons)
e.
Sebagai penyerap polutan.
3.3 Ausriscalpium
vulgare
3.1.1 Gambar
Hasil Pengamatan
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar
Literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam, 1992)
|
3.1.2
Klasifikasi
Klasifikasi
(Birsyam, 1992) :
Kerajaan Jamur
Divisi Basidiomycota
Kelas Agaricomycetes
Ordo Russulales
Keluarga
Auriscalpiceae
Genus
Auriscalpium
Spesies Auriscalpium vulgare
3.1.3 Pembahasan
Berdasarkan
pengamatan yang di lakukan dapat di ketahui bahwa Auriscalpium vulgare
tumbuh di sekitar tetumpukan daun yang tempatnya lembab dan basah.
Auriscalpium
vulgare,
umumnya dikenal sebagai jamur biji pinus, gigi kerucut, atau jamur kuping-pick,
adalah spesies dari jamur dalam keluargaAuriscalpiaceae dari urutanRussulales . Ini pertama kali dijelaskan pada
1753 oleh Carl Linnaeus , yang termasuk sebagai anggota
dari gigi jamur genus Hydnum , namun Inggris mikologi Samuel Frederick
Gray
mengakui keunikan dan pada tahun 1821 dipindahkan ke genus Auriscalpium bahwa ia diciptakan untuk
menampungnya. Jamur tersebar luas di Eropa, Amerika Tengah, Amerika Utara, dan beriklim Asia. Meskipun umum, ukurannya yang
kecil dan warna mencolok memimpin untuk dengan mudah diabaikan dalam pinus hutan di mana ia tumbuh. A.vulgare
umumnya tidak dianggap dimakan karena tekstur yang keras, tetapi
beberapa literatur lama mengatakan itu digunakan untuk dikonsumsi di Perancis
dan Italia( Gandjar, 2006).
Para badan buah (jamur) tumbuh pada konifer serasah atau kerucut konifer yang mungkin sebagian atau
seluruhnya terkubur di dalam tanah. Yang cokelat gelap topi dari jamur, kecil berbentuk sendok
ditutupi dengan fibril cokelat baik, dan mencapai diameter hingga 2 cm (0,8
inci). Di bawah topi adalah array padat gigi kecil sampai dengan 3 mm panjang,
mereka awalnya keputihan yang keunguan-merah muda sebelum berbalik coklat di
usia. Cokelat dan berbulu gelap batang , sampai dengan 55 mm (2,2 inci) panjang
dan 2 mm tebal, menempel pada salah satu sisi tutup. Jamur menghasilkan putih spora mencetak keluar dari sekitar bola spora( Gandjar, 2006).
Tingginya kadar kelembaban yang
penting untuk perkembangan tubuh buah yang optimal, dan pertumbuhan dihambat
oleh ekses baik terang maupun gelap. Badan buah mengubah mereka geotropic respon tiga kali selama
pengembangan mereka, yang membantu memastikan bahwa gigi pada akhirnya mengarah
ke bawah untuk rilis spora optimal. The kultur murni , pembelahan sel dan ultrastruktur dari hifa pada Auriscalpium vulgare dan miselia telah dipelajari dan dijelaskan
dalam mencari karakter berpotensi berguna untuk filogenetik analisis. Ketika tumbuh dalam
budaya, jamur dapat diinduksi untuk menghasilkan tubuh buah, sesuai dengan
kondisi( Latifah,
2004).
Tubuh buah A.vulgare adalah
berserat ketika segar dan menjadi kaku ketika kering. Ini adalah spesies kecil
jarang melebihi 55 mm (2,2 inci) tingginya, dengan topi biasanya lebih kecil
dari kuku orang dewasa: 0,5 sampai 2 cm (0.2 hingga 0,8 inci)-meskipun telah
diketahui mencapai hingga 4 cm (1,6 dalam ).
Auriscalpium
vulgare
biasanya memiliki satu batang , tapi kadang-kadang beberapa
batang muncul dari dasar umum tebal. Itu menempel ke sisi topi dan silinder
atau agak pipih dengan dasar bulat. Permukaannya ditutupi dengan serat berbulu
(terutama di dekat dasar), dan warna matang adalah gelap chestnut coklat.Pada topi yang berbentuk setengah lingkaran
atau berbentuk ginjal, datar di permukaan bawah dan bulat di atas. Permukaan
pada awalnya seperti batang: ditutupi dengan bulu dan gelapkecoklatan. Namun, menjadi halus dengan kematangan dan bisa
menggelapkan ke titik yang hampir hitam. Pada bagian margin topi, biasanya ringan dalam
warna ( penggemar untuk coklat muda-kira-kira warna
yang sama dengan duri) dari pusat, menjadi digulung ke dalam (revolute) dan
sering bergelombang dalam kedewasaan. The duri di bagian bawah tutup adalah
beberapa milimeter panjang dan silinder ke ujung yang tajam. Putih sampai
coklat muda ketika muda, mereka kemudian menjadi tertutup dengan massa spora
berwarna putih dan kemudian merubah abu-abu abu-abu. Kadang-kadang, tubuh buah
yang dihasilkan bahwa kurangnya topi seluruhnya( Latifah, 2004).
Auriscalpium
vulgare
dapat tumbuh dalam kultur murni pada agar yang mengandung pelat dilengkapi dengan nutrisi. Para koloni yang tumbuh berwarna putih dengan
krim pucat, dan menutupi permukaan agar-agar dalam waktu enam minggu dari awal
inokulasi. Miselium terbuat dari membungkuk-over hifa, tanpa hifa udara (hifa
yang memperpanjang di atas permukaan agar-agar). Biasanya, dua zona tidak jelas
berkembang pada sekitar 6 mm dan 15 mm dari titik inokulum awal, dengan
masing-masing zona sekitar 4 mm lebar. Zona muncul agak lebih ringan dalam
warna karena hifa lebih erat dikemas dan membentuk zat kristal yang deposit ke
agar-agar( Latifah,2004).
Miselium dewasa terdiri dari
berdinding tipis, hifa padat yang 1,5-3,2 pM dengan diameter. Mereka sering
keriput atau agak spiral (subhelicoid), dan sering bercabang pada sudut sekitar
45 °, dengan penjepit di dasar cabang. Mereka berisi amorf butiran yang muncul bias bila dilihat di bawah mikroskop fase
kontras
, dan dinding mereka sering bertatahkan dengan butiran kecil. Gloeocystidia
(berdinding tipis cystidia dengan bias , isi sering granular) yang umum,
mereka mengukur 50-85 oleh 6,5-8,5 pM, dan klub-berbentuk (kadang-kadang
memanjang), berdinding tipis, dan sering memiliki satu atau dua lobus dengan
bulat tips. Mengandung isi kuning berbusa dan pucat, mereka adalah warna kuning
bias di bawah fase kontras. Awalnya mereka tegak tetapi mereka segera jatuh di
bawah berat badan mereka sendiri untuk berbaring di permukaan agar-agar.
Deposito kristal berlimpah sekecil seperti piring atau bintang seperti, kristal
tersebar secara acak( Latifah,2004).
Berbuah dimulai sekitar enam minggu
setelah inokulasi awal pada plate agar, tapi hanya jika bagian dari tubuh buah
(duri atau bagian batang) digunakan sebagai inokulum untuk memulai pertumbuhan,
penggunaan vegetatif miselium sebagai inokulum
menghalangi berbuah berikutnya. Badan buah matang tumbuh sangat dekat dengan
lokasi awal inokulasi-dalam 3 mm-dan memakan waktu sekitar 60 hari untuk dewasa
setelah mereka pertama kali mulai terbentuk(Hidayat,2006).
3.4 Coprinellus micaceus
3.4.1 Gambar Hasil Pengamatan
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam, 1992)
|
3.4.2
Klasifikasi
Klasifikasi
(Birsyam, 1992) :
Kerajaan : Jamur
Divisi : Basidiomycota
Kelas : Agaricomycetes
Order : Agaricales
Keluarga
: Psathyrellaceae
Genus
: Coprinellus
Jenis
: Coprinellus micaceus
3.4.3
Pembahasan
Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan dapat diketahui bahwa Coprinellus micaceus
tumbuh di sekitar tunpukan dedaunan.Pada umumnya jamur memang hidup pada tempat
yang lembab dan basah.
Coprinellus micaceus adalah spesies umum jamur dalam keluarga Psathyrellaceae dengan distribusi kosmopolitan . Para badan buah dari saprobe biasanya tumbuh dalam kelompok di atau dekat membusuk
kayu tunggul pohon atau akar pohon bawah tanah.
Tergantung pada tahap pembangunan mereka, yang cokelat -cokelat jamur topi dapat berkisar dalam bentuk oval dari ke
berbentuk lonceng untuk cembung, dan mencapai diameter hingga 3 cm (1.2 in).
Topi, ditandai dengan alur radial halus yang memperpanjang hampir ke pusat,
sisanya atas keputihan batang hingga 10 cm (3,9 in) panjang. Pada
spesimen muda, permukaan tutup seluruh dilapisi dengan lapisan halus reflektif mika -seperti sel-sel yang memberikan inspirasi untuk kedua
jamur ini nama spesies dan nama umum mika topi, topi mengkilap, dan topi bertinta
berkilauan. Meskipun kecil dan tipis dengan daging , jamur biasanya berlimpah, karena mereka
biasanya tumbuh dalam kelompok padat. Beberapa jam setelah pengumpulan, insang akan mulai perlahan-lahan mencair
menjadi, hitam bertinta, spora cair-an-sarat enzimatik proses yang disebut autodigestion atau deliquescence.
Tubuh buah dimakan sebelum menghitamkan insang dan membubarkan,
dan memasak akan menghentikan proses autodigestion( Gandjar,2003).
Secara mikroskopik karakteristik dan Sitogenetika dari C.micaceus sangat terkenal, dan
telah sering digunakan sebagai model organisme untuk mempelajari pembelahan sel dan meiosis dalam Basidiomycetes . analisis kimia dari tubuh buah telah mengungkapkan
adanya antibakteri dan enzim senyawa-menghambat. Sebelumnya dikenal sebagai Coprinus
micaceus, spesies dipindahkan ke Coprinellus pada tahun 2001 sebagai filogenetik analisis memberikan dorongan untuk
reorganisasi dari banyak spesies sebelumnya dikelompokkan bersama dalam genus Coprinus . Berdasarkan pada penampilan eksternal, C.micaceus
hampir tidak bisa dibedakan dari C.truncorum , dan telah menyarankan
bahwa koleksi dilaporkan banyak mantan mungkin yang terakhir( Hidayat, 2006).
Secara spesifik, micaceus berasal dari bahasa Latin kata mika, untuk "remah, butiran
garam" dan akhiran - aceus, "seperti, mirip", aplikasi modern "mika" untuk zat yang sangat berbeda berasal dari pengaruh micare,
"glitter". jamur ini umumnya dikenal sebagai "cap mengkilap", yang "mika cap" atau "cap
bertinta berkilau", semua mengacu pada partikel bertepung ditemukan pada
tutup yang berkilau seperti mika( Hidayat, 2006).
Pada bagian kepala pada jamur (topi) pada awalnya mempunyai diameter 1-2,5 cm
(0,4-1,0 in), oval untuk silinder, namun memperluas menjadi berbentuk lonceng (berbentuk lonceng),
kadang-kadang dengan Umbo (tonjolan puting seperti pusat); akhirnya agak
rata, menjadi cembung. Bila diperluas, diameter 0,8-3,0 cm topi mencapai
(0,3-1,2 dalam) dengan margin robek menjadi sinar dan berbalik ke atas sedikit.
Warnanya kuning-cokelat atau cokelat sering dengan pusat gelap, kemudian kuning
pucat atau penggemar dari ke dalam margin. Margin topi secara
jelas berlekuk hampir semua jalan ke pusat, alur menandai posisi semakin lama insang di bagian bawah tutup. Ketika muda,
permukaan topi ditutupi dengan partikel mengkilap putih atau keputihan,
sisa-sisa kerudung yang universal yang mencakup spesimen
dewasa. Partikel-partikel yang melekat longgar dan mudah hanyut, sehingga
spesimen yang lebih tua sering halus.Coprinellus micaceus adalah hygrophanous , berarti menganggap warna berbeda tergantung
pada negaranya hidrasi( Gandjar, 2003).
Coprinellus micaceus adalah spesies yang dapat
dimakan, dan memasak inactivates enzim yang menyebabkan autodigestion atau deliquescence-proses
yang dapat dimulai segera setelah satu jam setelah koleksi. Hal ini dianggap
ideal untuk omelettes, dan sebagai rasa untuk saus, meskipun "sangat halus
spesies mudah dimanjakan oleh overcooking".Jamur juga menarik bagi lalat
buah genus Drosophila , yang sering menggunakan badan buah sebagai
tuan rumah untuk produksi( Gandjar, 2003).
3.5
Coprinus silvaticus
3.5.1 Gambar Hasil
Pengamatan
|
Gambar
Pengamatan
|
Gambar
Literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam,
1992)
|
3.5.2 Klasifikasi
Klasifikasi (Birsyam, 1992)
:
Kerajaan : Jamur
Divisi : Basidiomycota
Kelas : Agaricomycetes
Order : Agaricales
Keluarga : Agaricaceae
Genus : Coprinus
Spesies
: Coprinus silvaticus
3.5.3 Pembahasan
Berdasarkan
pengamatan yang di lakukan dapat diketahui bahwa Coprinus silfaticus
ditemukan tumbuh menempel pada kayu dengan bergerombol dengan satu spesiesnya.
Coprinus silvaticusadalah jenis jamur yang sering terlihat tumbuh di rumput, di sepanjang jalan
kerikil dan daerah limbah. Kaum muda badan buah pertama muncul sebagai silinder putih muncul
dari tanah, maka lonceng berbentuk topi terbuka keluar. Topi putih, dan ditutupi
dengan sisik-ini adalah asal dari nama-nama umum dari jamur. Para insang bawah tutup berwarna putih, kemudian
merah muda, kemudian berubah menjadi hitam dan mengeluarkan cairan hitam yang
penuh dengan spora (maka "tinta cap" nama). Jamur ini tidak biasa
karena akan berubah menjadi hitam dan membubarkan diri dalam hitungan jam setelah
dipetik atau deposito spora( Hidayat,2006).
Ketika muda itu adalah sangat baik jamur merang asalkan dimakan segera setelah
dikumpulkan (itu membuat sangat buruk karena autodigestion insang dan topi).
Jika penyimpanan jangka panjang yang diinginkan, microwave, menumis atau
mendidih sampai lemas akan memungkinkan jamur untuk disimpan dalam lemari pendingin
selama beberapa hari atau beku. Pengolahan harus dilakukan baik untuk makan
atau penyimpanan dalam waktu empat sampai enam jam panen untuk mencegah
perubahan yang tidak diinginkan untuk jamur. Spesies ini dibudidayakan di China sebagai makanan. Jamur
kadang-kadang bisa bingung dengan jamur Magpie yang beracun( Hidayat, 2006).
3.6Russula nobilis
3.6.1 Gambar Hasil
Pengamatan
|
Gambar
pengamatan
|
Gambar
literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam, 1992)
|
3.6.2 Klasifikasi
Klasifikasi (Birsyam,1992) :
Kingdom Fungi
Filum Basidiomycota
Kelas
Agaricomycetes
Bangsa
Russulales
Suku
Russulaceae
Marga Russula
Spesies Russula
nobilis
3.6.3 Pembahasan
Russula nobilis (syn. Russula mairei) umumnya dikenal sebagai
kekesalan Beechwood. Ini memiliki rasa pahit, dan jika dimakan biasanya
menyebabkan penyakit, sakit perut dan muntah.Topi bervariasi dari hampir putih
ke warna pink kemerahan yang kaya.
Caps dari kekesalan Beechwood adalah
3 sampai 9cm diameter, mulus, non-striate dan cerah merah atau merah muda
(sangat jarang hampir sepenuhnya putih).. Tutup spesies ini umumnya tetap
cembung dengan paling banyak depresi hanya pusat dangkal.Daging berwarna merah
atau merah muda langsung di bawah kutikula, tempat lain daging putih.Sebuah brittlegill sangat merah hanya ditemukan
di bawah pohon Beech, kadang-kadang di hutan campuran, tetapi lebih sering pada
Beechwoods,Russula nobilis tidak
mudah dibedakan dari beberapa merah-capped anggota lain dari genus Russul( Brooks,2009).
Ini spesies tertentu bersifat racun, karena memang
adalah emetica Russulaagak
mirip yang tumbuh di bawah pohon pinus. Fitur yang membedakan adalah
kerapuhan lebih besar dari Russula
nobilis, bentuk topi cembung bahkan ketika sepenuhnya matang, dan
merah muda-merah topi nya (Russula
emeticabiasanya memiliki topi yang lebih merah) yang kutikula peels
hanya 1/3 ke pusat, sedangkan tutup Russula kulit emetica setidaknya 2/3 ke pusat(
Campbell,2003).
Russulas Kebanyakan berwarna cerah topi
(The Russula kata
berasal dari merah, seperti
dalam kata kemerahan, dan Russulas banyak red).Sangat mirip dengan terkait
Russulas topi susu (Lactarius),yang memancarkan cairan susu, yang Russulas pernah
lakukan. Jika tidak, mereka berbagi karakteristik yang sama(
Brooks,2009).
Russulas semua memiliki insang putih (yang mungkin menghitamkan
sedikit dengan usia) yang menempel pada batang (tidak ada ruang antara batang
dan asal insang -Amanitas, di sisi lain, memiliki insang
gratis). The cetak spora berwarna putih ke berwarna
krem. Jamur ini sangat rapuh sehingga mereka runtuh ketika ditangani kasar(
Brooks,2009).
Jamur ini memiliki
penyebaran luas di Eropa, Asia, dan America Utara. Spesies ini dicirikan oleh
lamella yang mudah patah atau rapuh dan warna tudung yang cerah. Tudung
berwarna merah mawar, lebar 3-6 cm, berbentuk cembung sampai datar, atau agak
tertekan ke bawah, dan sedikit lengket. Sebagian permukaan tudung jamur akan
mengelupas dan memperlihatkan daging buah merah muda. Tubuh buah sering dirusak
oleh siput. Batang berukuran panjang 2x 1-5 x 1.5 cm, silindris, dan berwarna
putih. Jarak antar lamella sempit,dengan bentuk adneksa, bulat, berwarna putih,
terkadang dengan cahaya biru-hijau samar. Rusula ini sering ditemukan dihutan Fagus atau jenis hutan lainnya.jamur ini
tidak dapat dimakan. Kemungkinan mengandung racun walau tidak mematikan( Brooks, 2009).
3.7 Fistulina hepatica
3.7.1 Gambar Hasil
Pengamatan
|
Gambar
pengamatan
|
Gambar
literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam, 1992)
|
3.7.2 Klasifikasi
Klasifikasi (Birsyam, 1992)
:
Kingdom
Fungi
Filum Basidiomycota
Kelas Agaricomycetes
Subkelas
Agaricomycetidae
Bangsa
Agaricales
Suku
Fistulinaceae
Marga Fistulina
Spesies
Fistulina hepatica
3.7.3 Pembahasan
Marga Fistulina beranggotakan jamur-jamur yang
menempel pada kayu (saprofit) dengan struktur basidiokarp berdaging dan tak
bertangkai. Himenofor jamur ini berbentuk seperti pipa polycyphelloid dan
berlilin. Marga Fistulina memiliki 4 jenis anggota, yaitu F. Africana. F. hepatica,
F.antartica, dan F.pallida. beberapa jenis marga fistulina dapat dimanfaatkan
sebagai bahan makanan, dan contoh paling terkenal adalah Fistulina hepatica.
Sebagian besar jenis
Fistulina merupakan jamus saprofit yang menempel pada kayu atau pepohonan.
Jamur ini juga diketahui tumbuh pada tanah yang gambur dan mengandung banyak
humus. Distribusi jamur ini tersebar di sebagian wilayah Eropa, Amerika,
Afrika, dan Asia(Latifah,2004).
Jenis ini umumnya
dikenal sebagai beefstek fungus,
jamur ini muncul setiap tahun (annual) dan memiliki tubuh buah berbentuk semi
bulat, cembung hingga pipih. Saat dewasa, sebagian tepi tubuh buah Fistulina hepatica akan mengalami
pelebaran, hingga bentuknya menjadi lonjong tak
beraturan. Pada tubuh buah jamur ini juga terkadang dapat terlihat
adanya alur radial (jari-jari). Saat dalam keadaan lembab, tubuh buah ini
mengeluarkan getah yang lengket(
Latifah,2004).
Jamur
daging sapi muda memiliki warna jingga kemerahan hingga merah hati, dan akan
menjadi merah tua hingga coklat saat dewasa. Jamur ini umunnya tidak memiliki
tangkai. Jika ada pun, tangkai tersebut biasanya tumbuh secara lateral dan
terkadang membentuk lilitan.panjang tali berkisar 2,5-7,5 cm. struktur tangkai
yang berdaging dengan warna yang serupa warna permukaan atas tubuh buah. Spora
jamur daging sapi berukurab 4-6 x 3-6 mikrometer, bentuknya elips dengan
struktur yang halus(Hidayat,2006).
Jamur ini umunya hidup soliter atau dalam
kelompok kecil pada tangkai dan batang kayu yang telah mati. Mereka juga hidup pada
pangkal pohon yang masih hidup, tapi tidak terlalu berperan sebagai parasite
pada tanaman tersebut. Jenis tanaman yang sering digunakan sebagai inang adalah
Captanopsis dan Quercius (Hidayat,
2006).
Jenis jamur ini sering
diburu untuk dimanfaatkan sebagai makanan. Sebagian besar masyarakat mengatakan
bahwa jamur ini memiliki rasa jeruk. Beberapa penduduk umumnya mengolah jamur
inidengan cara dikeringkan atau dihancurkan menjadi bubuk. Selanjutnya bubuk
jamur diini diolah dan dimasak menggunakan oven(Birsyam, 1992).
Distribusi jamur ini
tersebar diwilayah selatan Australia, wilayah barat dan Asia Selatan, Amerika
Utara dan Selatan, hingga Eropa (Prancis). Jamur ini tumbuh dengan pesat selama
musim panas( Birsyam,1992).
3.8
Marchantia
polymorpa
3.8.1
Gambar Hasil Pengamatan
|
Gambar
pengamatan
|
Gambar
literatur
|
![]() |
![]()
( Birsyam,1992)
|
3.8.2 Klasifikasi
Klasifikasi
Marchantia polymorpha menurut Ma’ruf
(2010):
Kingdom Plantae
Divisi Bryophyta
Klas Hepaticopsida
Bangsa Marchantiales
Suku Marchantiaceae
Marga Marchantia
Jenis Marchantia polymorpha
3.8.3 Pembahasan
Marchantia polymorpha merupakan salah satu spesies dari genus Marchantia. Tubuhnya terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti lobus pada hati, berwarna hijau dan satu kelas dengan Riccia sp. Gametofitnya membentuk anteridium dan Arkegonium yang berbentuk seperti sporofit, pertumbuhannya terbatas karena tidak memiliki jaringan meristem.
Talus Pada Marchantia
polymorpha berbentuk roset bercabang- cabang.Talus tumbuh hingga 10 cm
dengan lebar hingga 2 cm, biasanya berwarna hijau namun tanaman yang telah tua
bias menjadi coklat atau keunguan. Permukaan atas memiliki tanda
heksagonal.Bagian bawah ditutupi oleh banyak rhizoid yang menempel ke tanah.Marcantia polymorpha ditemukan di
seluruh dunia didaerah tropis sampai iklim Arktik.Tumbuh pada tanah yang
lembab, tepi sungai, kolam renang, rawa. , jalan, rumah kaca dan dapat menjadi
holtikultura gulma (Birsyam,1992)
Bagian- bagian lumut
hati adalah(Sulisetjono, 2011):
1.
Apotitis :
batas antara seta dan sporangium
2.
Sporangium :
alat penghasil spora
3.
Seta
: Tangkai sporangium
4.
Vaginula
: Selaput pangkal tangkai sporangium
Reproduksi Marchantia polymorpha
secara vegetatif dan seksual. Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi,
tergantung usia sel-sel vegetative. Jika sel-sel penyusun talus mati karena
telah tua, maka talus akan terlepas dan selanjutnya tumbuh dan membentuk
individu baru. Reproduksi seksual terjadi selama musim pertumbuhan, yaitu pada
saat kelembaban cukup tinggi, siang hari lebih panjang dari malam hari, dan
kandungan nitrogen pada substrat dalam keadaan rendah. Alat kelamin ,
anteridium dan arkegonium tumbuh pada ujung gametangiofor, tepatnya pada daerah reseptakel. Anteridium tumbuh dari
sebuah sel dibelakang titik tumbuh pada lobus reseptakel. Anteridium
dewasa berbentuk avoid, menempel didasar
ruang anteridium dengan perantaraan tangkai yang tersusun dari beberapa sel(
Sulisetjono,2011).
Marchantia polymorpha dikenal juga dengan lumut hati, jenis tersebut dapat digunakan sebagai obat hepatitis, menghilangkan racun akibat gigitan ular..Marchantia polymorpha juga memproduksi bis antijamur. Keanekaragaman tumbuhan lumut yang terdapat di Indonesia yang memiliki potensi sebagai obat-obatan belum banyak dilakukan penelitian mengenai kandungan kimianya, maka dari itu diperlukan kerjasama antara peneliti dan industri obatan-obatan untuk melakukan kajian ilmiahnya. Hal tersebut dapat membuka peluang ekonomi yang besar bagi industri obat-obatan yang membutuhkan bahan baku alami sebagai bahan dasar untuk pembuatan obat-obatan dan keanekaragaman tumbuhan lumut itu sendiri dapat dipertahankan(Karim,2007).
3.9 Marchantia sp
3.9.1 Gambar Hasil
Pengamatan
|
Gambar pengamatan
|
Gambar literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam, 1992)
|
3.9.2 Klasifikasi
Klasifikasi
Marchantia sp menurut Ma’ruf (2010) adalah:
Kingdom Plantae
Divisi Bryophyta
Klas Hepaticopsida
Bangsa Marchantiales
Suku Marchantiaceae
Marga Marchantia
Jenis Marchantia sp
3.9.3 Pembahasan
Marchantia
sp adalah suku Marchantiaceae, sekelompok lumut
hati.Genus ini adalah tumbuhan sederhana yang
tidak memiliki system pengangkut. Dulu mereka masuk dalam divisi
Bryophyta namun sekarang mereka memiliki divisi sendiri yaitu Marchantiophyta.Marchantia sp Satu kelas dengan Riccia sp.Marchantia sp berwarna hijau
tua, bagian – bagiannya terdiri dari talus, takik kupula,, filoida dan
rizoid.Habitatnya ditempa- tempat yang lembab.
Marchantia merupakan salah satu marga lumut yang cukup popular.
Beranggotakan sekitar 65 spesies, ditemukan disegenap penjuru dunia
(cosmopolitan).habitatnya adalah tempat- tempat yang lembab, dingin,
danteduh.Tumbuhditebing-tebingsungai, dindingsumur, rawadanbatu-batuan yang
basah. Jika tumbuh subur Marchantia akan terlihat “bagaikan karpethijau” yang
terhampar di permukaan tanah.
Gametofit
yang telahdewasamempunyaisusunantubuhsebagaiberikut:
A. StrukturLuar
Tubuhtersusundari talus
dorsi-ventral yang berwarnahijaugelap, pipih, bercabangdikotom. Percabangan
talus disebutlobusdari talus. BerbedadenganRiccia yang
percabangantalusnyamembentukpolaroset. Bagiantengah talus
menebalmembentukrusuk. Padaujung talus terdapattakik yang
didasarnyaterletaktitiktumbuh. Permukaan dorsal talus tersusunatasruang-
ruangudaraatau areolae yang berbentuk trapezium.
Setiap areolae memilikisebuahpori
(lubangudara) dipermukaanatas yang terlihatsepertititik-titikkecil.
Fungsiporiudarasebagaijalan / lubangaerasi talus
denganpenguapanseminimalmungkin. Selainitudipermukaan dorsal,
tepatnyadibagianrusuk, seringditemukankupulaataumangkuktempattumbuhgammae
(tunas). Jika talus telahdewasa, padabidang dorsal tumbuhgametangiofor
(strukturpembawaalatkelamin) yang berbentukseperti payung.Arkegoniofor
(pembawaarkegonium) dananteridiofor (pembawaanteridium) tumbuhpada talus yang
berbeda, sehinggaada talus jantandan talus betina (heterotalikataudioeccius).
Padabidang
ventral munculbanyaksekali rhizoid yang merupakanperpanjangansel epidermis
bawah, Ada duamacam rhizoid yaitu rhizoid berdindinghalusdan rhizoid
bersekattidaksempurna.selain rhizoid padabidang ventral jugatumbuhsisik,
berbentukpipihdanberbentukdaribanyaksel,
warnaungudanbiasanyatersusundalamduasampaiempatderetpadakeduasisirusuk yang
fungsinyauntukmenjagakelembabanlingkungandisekitar talus dengancaramenyerap
air.
StrukturThalusMarchantialebihkompleks.
Strukturdalam talus dapatdibedakanmenjaditidadaerahyaitu epidermis,
fotosintesisdandaerahpenyimpananmakanan (Sulisetjono, 2011):
1.
Daerah epidermis
Tersusundari
epidermis atas (padapermukaanbidang dorsal) dan epidermis bawah
(padapermukaanbidang ventral). Epidermis atasmenutupidaerahfotosintesis.
Tesusundariselapissel, selnyaberkloroplas,
dindingselmenghadappermukaanataslebihtebal. Fungsi epidermis atasadalahuntukmelindungijaringan
yang beradadibawahnyadanmengaturpenguapan air. Pada epidermis
atasterdapatporiudarayabgdikelilingioleh 4 tumpukcincin,
setiapcincintersusundari 4-5 selhinggaterbentuksuatucerobong yang
melebardibagianujungnya. Selpenyusuncincin yang paling bawahdisebut papillae.
2.
Daerah fotosintesis
Permukaan
dorsal talus tersusundari areolae yang terletak pas dibawah epidermis atas.
Ruangudaratersebutmemilikiukuran relative samadanantara yang satudengan yang
lain dibatasioleh dinding pemisah yang
tersusundari 3-4 sel.Setiapruangudaraberhubungandenganlingkungannyamelaluipori.
3.
Daerah Peyimpanan
Cadangan Makanan
Terletak
di bawahdaerah fotosintesis. Tersusun dari sel-sel yang berdinding tipis,
berbentuk polygonal dengan ukuran yang relative besar, tersusun padat, dan
biasanya tidak mempunyai kloroplas, sebagian besarmengandung tepung dan
butir-butir protein, ada juga sel minyak dan sel mucilage.
Cara
reproduksi Marcantia dibedakan menjadi reproduksi vegetative dan generative
(Sulisetjono,
2011):
A.
Reproduksi vegetative
1.
Fragmentasi
Jika
sel penyusun talus mati karena telah tua, maka talus muda akan terlepas dan
selanjutnya tumbuh dan membentuk talus baru.
2.
Adanya
cabang-cabang Adventif
Cabang-cabang
ini bilater lepas dapat tumbuh menjadi talus baru.
3.
Pembentukan gammae
(tunas)
Gammae
dibentuk didalam kupula (mangkuk). Kupula tumbuh dari sebuah sel yang berada dibelakang
titik tumbuh. Sebagian besar sel
penyusun gammae berwarna hijau dan sel minyak dan pada permukaannya terdapat
sel rhizoid. Pada dasar kupula, berselang-seling dengan gammae, tumbuh rambut
mucilange yang berperan dalam pelepasan gammae. Jika lingkungan basah, sel
mucilage akan menyerap air sehingga mengembang dan mendesak gammae yang ada
diselahnya sehingga terlepas dari dasar kupula lantas terbawa oleh aliran air.
Jika jatuh ditempat yang cocok, sel-sel rhizoid pada gammae akan membentuk rhizoid. Dari kedua titik
tumbuh yang terdapat pada takik akan tumbuh talus baru dengan arah tumbuh yang
berlawanan.
Reproduksi seksual
terjadi selama musim pertumbuhan, yaitu pada saat kelembaban cukup tinggi,
siang hari lebih panjang dari malam hari, dan kandungan nitrogen pada substrat
dalam keadaan rendah. Alat kelamin , anteridium dan arkegonium tumbuh pada
ujung gametangiofor, tepatnya pada daerah
reseptakel. Anteridium tumbuh dari sebuah sel dibelakang titik tumbuh pada
lobus reseptakel. Anteridium dewasa
berbentuk avoid, menempel didasar ruang anteridium dengan perantaraan
tangkai yang tersusun dari beberapa sel.
Reseptakel arkegonium
memiliki lekuk lobus yang tidak dalam sehingga sulit dibedakan dari reseptakel
jantan, jumlah lobus 8. Pada waktu reseptakel masih muda, arkegonium tumbuh
pada permukaan atas reseptakel dengan posisi keatas dan dalam
susunanakropetal.Fertilisasi dapat
terjadi bila ada air. Mengingat arkegonium dananteridium tumbuh pada
talus yang berbeda, spermatozoa mencapai arkegonium melalui beberapa cara
(sulisetjono, 2011):
a.
Melaluitetes-tetes air
hujan yang melemparkan spermatozoa kearkegonium.
b.
Spematoa itu sendiri
berenang di air menuju arkegonium
c.
Spermatozoa dibawa ke
arkegonium oleh hewan- hewan mikroskopis, misalnya tangau.
Zigot hasil fertilisasi dengan kromosom
diploid merupakan awal tahap sporofit. Zigot mulai membelah kerang lebih 48 jam
setelah fertilisasi. Pembelahan pertama secara horizontal menghasilkan 2 sel
yaitu epibasal dan hipobasal. Pembelahan kedua secara vertical dihasilkan 4 sel
yang disebut tahap kuadran.Pembelahan berikutnya menghasilkan 8 sel (tahap
oktan). Empat sel yang di luar membelah secara cepat dan berdiferensiasi
membentuk kapsula, sedangkan empat sel yang di dalam akan membentuk kakidan
seta.Pada bagian kapsula selanjutnya terjadi pembelahan periklinal sehingga
dihasilkan 2 kelompok sel yaitu ampitesium dan endotesium( Sulisetjono,2011).
Sejalan dengan perubahan- perubahan embrio
dan pembentukan spora, terjadi perubahan- perubahan pada jaringan disekeliling
sporofit. Perubahan- perubahan itu (Sulisetjono, 2011):
1. Tangkai/
arkegoniofor tumbuh memanjang
2. Sel-
sel perut membelah secara periklinal membentuk 2 lapisan sel yang menyelubungi
sporofit. Struktur ini disebut kaliptra.
3. Terbentuk perigonium diluar kaliptra yang juga
berfungsi sebagai selubung sporofit.
Dengan
demikian sporofit Marchantia yang telah masak akan memperlihatkan struktur
sebagai berikut (Sulisetjono, 2011):
1.
Kaki, terletak pada
dasar sporofit, terutama pada permukaan bawah reseptakel betina.
2.
Seta atau tangkai
sporofit sangat pendek, sel-selnya tersusun vertical.
3.
Kapsula atau kotak
spora, bentuk oval dan berwarna kuning jika masak. Didalamnya berisi banyak
sekali meiospora dan sel-sel elater.
Pada awal perkembangan embrio, makanan
diambil sepsnuhnya dari talus gametofit, kemudian sebelum sporofitnya dewasa,
sel-sel penyusun seta, dinding kasula, sel leher dan kaki mengandung klorofil,
sehingga dapat mensintesis makanan sendirimeskipun bahan bakunya tetap
mengambil dari gametofitnya( Sulisetjono,2011).
Marchantia
sp dapat digunakan sebagai obat- obatan,
dapat mengobati penyakit hepar. Selain itu juga berfungsi sebagai penyedia
tanah bagi tumbuhan yang lebih besar yang tumbuh dipohon karna akar lumut
menyimpan tanah(Karim, 2007).
3.10.1 lobaria pulmonaria
3.10.2 Gambar Hasil
Pengamtan
|
Gambar pengamatan
|
Gambar literatur
|
![]() |
![]()
(Birsyam, 1992)
|
3.10.3
Klasifikasi
Klasifikasi lobaria sp menurut Ma’ruf (2010):
Kerajaan Jamur
Divisi Ascolichenes
Kelas Lecanoromycetes
Order Peltigerales
Keluarga Lobariaceae
Marga Lobaria
Jenis Lobaria pulmonaria
3.10.3 Pembahasan
Lobaria
pulmonaria merupakan
liken. Spesies ini merupakan simbiosis antara jamur ascomycota dan alga
cyanobacteria, epifit pada lumut.Populasi Lobaria
pulmonaria dapat punah karena
industi kehutanan dan polusi udara. Habitat tumbuh dipohon dan tempat lembab.
Termasuk dalam kelompok liken foliose (menyerupai daun), berwarna hijau.
Bentuknya menyerupai jaringan di paru-paru.
Lobaria pulmonaria memiliki distribusi yang luas di Eropa, Asia,
Amerika Utara dan Afrika Habitat ditempat basah dengan curah hujan tinggi,
terutama pesisir daerah. Terkait dengan lama -hutan primer, kehadirannya dan
kelimpahan dapat digunakan sebagai indikator usia hutan, setidaknya di
Cedar-Hemlock Interior biogeoclimatic zona di timurBritish Columbia. Lobaria pulmonaria juga ditemukan di
padang rumput-hutan. Biasanya tumbuh pada kulit
pohon berdaun lebar seperti pohon oak, dan tumbuh di batu. Di
laboratorium, L.pulmonaria telah ditanam di nilon mikrofilamen.Berbagai
faktor lingkungan diperkirakan mempengaruhi distribusi L.pulmonaria,
seperti suhu, kelembaban (kelembaban rata-rata, kecepatan dan frekuensi siklus
basah-kering), paparan sinar matahari, dan tingkat polusi udara. Upaya untuk
kuantitatif mengevaluasi kontribusi dari faktor-faktor pertumbuhan lichen sulit
karena perbedaan lingkungan asli dari mana lichen dikumpulkan akan sangat
mempengaruhi panas dan pengeringan(Latifah, 2004).
Karena
populasi menurun, L.pulmonaria dianggap langka atau terancam di berbagai
belahan dunia, terutama di daerah dataran rendah Eropa.Penurunan disebabkan
oleh industri perhutanan dan polusi udara khususnya hujan asam.L.pulmonaria,
seperti lumut lain yang mengandung komponen ganggang biru-hijau, sangat rentan
terhadap efek hujan asam, karena penurunan berikutnya dalam pH mengurangi
fiksasi nitrogen melalui penghambatan dari alga nitrogenase enzim(Latifah,
2004).
Lobaria pulmonaria termasuk liken dalam
golongan foliose, talusnya seperti daun- daun bewarna hijau, kasar, lobed
dengan pola pegunungan dan bergelombang pada permukaan atas. Warna hijau terang
dalam kondisi lembab, menjadi kecoklatan dan tipis ketika kering.Spesies ini
sering memiliki lapisan halus rambut, sebuah tomentum, di permukaannya lebih
rendah.Korteks, lapisan pelindung luar pada permukaan talus, kira-kira
sebanding dengan epidermis dari tanaman hijau. Talus ini biasanya 5-15 cm, dengan
lobus 1-3 cm(Latifah, 2004).
L.
pulmonaria memiliki kemampuan untuk berkembangbiak secara seksual dan
aseksual.Dalam reproduksi seksual, spesies menghasilkan apothecia berbentuk
cakram dan berwarna coklat kemerahan mengandung asci, dari mana spora yang dihasilkan
dilepaskan ke udara (seperti ballistospores). Berdasarkan studi ascospore
perkecambahan, menyatakan bahwa L. spora pulmonaria menggunakan
beberapa mekanisme untuk menghambat perkecambahan-penghambatan dilakukan ketika
spora ditanam dalam media pertumbuhan sintetis yang mengandung adsorben seperti
bovine serum albumin atau α- siklodeskrin(Tjitrosupoemo, 1989).
Perkembangbiakan
vegetatif melalui soredia atau isidia.
Soredia merupakan kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang membelah dan
diselubungi benang- benang miselium menjadi satu badan yang dapat terlepas dari
induknya.Soredia terdapat pada bagian medulla yang keluar melelui celah kulit
sehingga soredia dapat dengan mudah tumbuh. Diameter
sekitar 25-100 m diterbangkan angin dan akan tumbuh pada kondisi yang sesuai
menjadi tumbuhan lichen yang baru.Isdia berbentuk silinder, bercabang seperti
jari tangan dan panjang antara 0,5-3 m, kulit luar diantaranya 0,01-3 m.
Berdasarkan kemampuan bergabung dengan talus, maka dalam media perkembangbiakan
isdia akan menambah luas permukaan luarnya. Soredia dan isdia telah ditetapkan
sebagai modus dominan reproduksi di L.pulmonaria.propagul menonjol
menjadi kering dan rapuh selama siklus basah / kering reguler dari lichen, dan
dapat dengan mudah runtuh dari talus tersebut. Fragmen ini dapat berkembang
menjadi talus baru, baik di lokasi yang sama atau di lokasi baru setelah
penyebaran oleh angin atau hujan. Selanjutnya degenerasi korteks talus,
replikasi sel alga hijau, dan belitan hifa jamur dengan sel alga hijau Ini
langkah menyebabkan kenaikan tekanan internal yang akhirnya menerobos korteks.
Pertumbuhan yang berkelanjutan menyebabkan butiran ini didorong ke atas dan
keluar dari permukaan talus ( Tjitrosoepomo,
1989).
Spesies ini memiliki sejarah
digunakan dalam obat-obatan herbal, dan penelitian terbaru telah dikuatkan
beberapa sifat obat ekstrak lumut.Lobaria
pulmonaria juga dapat digunakan
untuk mengobati penyakit paru- paru. L. pulmonaria diketahui mengandung
berbagai asam umum lumut, seperti asam stictic, asam stictic desmethyl, asam
gyrophorictenuiorin, constictic, asam
norstictic, asam peristictic, dan asam methylnorstictic. secara kolektif
dikenal sebagai depsidones. Hal ini juga berisi gula alcohol, arabitol,
velebitol di samping beberapa karotenoid
(isi total> 10 mg / kg), seperti karoten alpha, beta karoten dan beta
kriptoxantin.Korteks atas dari lichen mengandung melanin(Latifah,2004).
Geagar
Buku Herball atau General Historie tanaman (1597) merekomendasikan L.pulmonaria
digunakan untuk obat asma, inkontinensia dan kurangnya nafsu .Di India
digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati pendarahan dan eskim, dan
digunakan sebagai obat untuk batuk darah oleh Hesquiath. Di Inggris dan
Colombia Sebuah survei dari ethnophytotherapeutical tinggi Molise wilayah di
pusat-selatan Italia mengungkapkan bahwa L.pulmonaria digunakan sebagai
antiseptic dan dioleskan pada luka. Sebuah air panas ekstrak disusun dengan
menggunakan spesies ini telah terbukti memiliki anti- inflamasi dan ulkus,
ekstrak metanol yang terbukti memiliki efek perlindungan pada system pencernaan
tikus, mungkin dengan mengurangi stress oksidstif dan mengurangi inflamasi efek
neutrofil.Selain itu, ekstrak metanol juga memiliki aktivitas antioksidan kuat
dan mengurangi daya, mungkin karena adanya senyawa fenolik L. pulmonaria
juga telah digunakan untuk memproduksi pewarna untuk wol, dalam penyamakan
kulit, dalam pembuatan parfum dan sebagai bahan dalam pembuatan bir (Suwarno,2009).
3.11.1
Parmelia
sulcata
3.11.2
Gambar Hasil
Pengamatan
|
Gambar pengamatan
|
Gambar literatur
|
![]() |
![]()
( Birsyam, 1993)
|
3.11.2 Klasifikasi
Klasifikasi Parmelia sulcata menurut Ma’ruf (2010):
Kingdom Fungsi
Divisio Ascomycota
Class Lecanoromycetes
Ordo Lecanorales
Family Parmeliaceae
Genus Parmelia
Spesies Parmelia sulcata
3.11.3 Pembahasan
Parmelia sulcata merupakan liken dari kelas ascolichenes. Lumut kerak ini merupakan simbiosis antara
Chlorophyceae (alga hijau) dengan Ascomycetes. Habitatnya biasanya terdapat
pada pepohonan atau bebatuan. Lumut kerak ini tipe tubuh buahnya adalah
apothecium yang terlatak di tepi thallusnya. Untuk Parmelia jenis ini
bgian tengahnya berwarna hijau keputihan lalu agak ke pinggir lagi berwarna
hijau kebiruan dan yang paling pinggir berwarna
abu-abu. Bentuknya hampir bulat, dan thallusnya berupa foliose.
Warnanya abu- abu pucat hingga abu- abu kehijauan.
Parmelia
adalah genus besar dari lichens dengan distribusi global, membentang dari
Arktik kebenua Antartika tetapi terkonsentrasi didaerah beriklim sedang.
Lichens ini adalah makanan untuk beberapa ulat Lepidoptera tertentu, seperti
kupu-kupu taleporia bagworm tubules.Lichens ini
hidup melekat pada batu, ranting dengan
rhizenes, relative longgar melekat pada substratnya. Stukturnya seperti
daun yang tersusun oleh lobus-lobus.Thallusnya datar dan lebar, memiliki banyak
lekukan seperti daun yang mengkerut (Nurlis,1998).
Lichen
foliose memiliki struktur seperti daun yang tersusun oleh lobus-lobus. Lichen
longgar melekat pada substratnya.
Thallusnya datar, lebar, banyak lekukan
seperti daun yang mengkerut berputar. Bagian permukaan atas dan bawah berbeda.
Lichen ini melekat pada batu, ranting
dengan rhizines. Rhizines ini juga
berfungsi sebagai alat untuk mengabsorbsi makanan (Nurlis,1998).
Perkembangbiakan
genus Parmelia dengan cara vegetative dan seksual yaitu(Gandjar, 2006):
Secara
vegetative
1. Fragmentasi
Perkembangbiakan dengan memisahkan bagian tubuh
yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi individu baru.
2. Isidia
Isdia lepas dan talus induknya yang masing-
masing mempunyai simbion akan tumbuh menjadi individu baru.
3. Soredia
Kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang
membelah dan diselubungi benang- benang miselium menjadi satu badan yang dapat
terlepas dari induknya.
Reproduksi
seksual dengan pembentukan spora yang sepenuhnya bergantung kepada pasangan
jamurnya.
Manfaat dari Parmelia
sulcata ini bias digunakan sebagai bahan pembungkus mumi dan
campuran buat pipa cangkang untuk merokok terutama oleh orang mesir,
karena didalam parmelia mengandung asam lecanotic, dan di Amerika utara
parmelia digunakan untuk pewarna kol
dengan cara fermentasi lichens dalam ammonia (Etdjang, 2003).
3.12
Parmelia
sp
3.12.1
Gambar Hasil Pengamatan
|
Gambar pengamatan
|
Gambar literature
|
![]() |
![]()
(Birsyam,1992)
|
3.12.2 Klasifikasi
Klasifikasi Parmelia sp menurut Ma’ruf
(2010) adalah:
Kingdom Fungi
Divisio Ascomycota
Class Lecanoromycetes
Ordo Lecanorales
Family Parmeliaceae
Genus Parmelia
Spesies Parmelia sp
3.12.3
Pembahasan
Parmelia sp merupakan liken dari
golongan foliose yang berbentuk seperti helaian daun.Parmelia sptermasuk kelompok foliose menyerupai
daun yang spesies umumnya dikenal sebagai crottle dan tengkorak lichen. Bentuk
menyerupai kulit kusut dan kadang-kadang tumbuh 90 sampai 120 cm.
Lumut
kerak ini merupakan simbiosis antara Chlorophyceae (alga hijau) dengan
Ascomycetes. Habitatnya biasanya terdapat pada pepohonan atau bebatuan. Lumut
kerak ini tipe tubuh buahnya adalah apothecium yang terlatak di tepi
thallusnya. Untuk Parmelia jenis ini bgian tengahnya berwarna hijau
keputihan lalu agak ke pinggir lagi berwarna hijau kebiruan dan yang paling
pinggir berwarna abu-abu. Bentuknya hampir bulat, dan thallusnya berupa foliose.
Warnanya abu- abu pucat hingga abu- abu kehijauan( Gandjar, 2006).
Lichenes ini tidak memerlukan syarat-syarat
hidup yang tinggi dan tahan kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Karena
panas yang terik lichenes yang hidup pada batu-batu dapat menjadi kering,
tetapi tidak mati, dan jika kemudian turun hujan, lichenes ini dapat hidup
kembali( Gandjar, 2006).
Parmelia sp memilikisisi gelap yang lebih rendah dengan
rhizines yang melekatkan lumut pada substratnya.Dibagian atas berwarna abu-abu agak kecoklatan dan organ reproduksi
diatasnya.Lapisannya kemungkinan terdiri dari lapisan alga atau gonidium yang
menghasilkan makanan dengan fotosintesis, lapisan fungi yang tersusun atas
sel-sel jamur yang rapat dan kuat untuk
menjaga agar lumut kerak tetap dapat
tumbuh serta adanya lapisan empulur (rhizine) yang tersusun atas sel-sel jamur
yang tidakrapat yang berfungs iuntuk menyimpan
persediaan air dantempa tterjadinya perkembangbiakan (Gandjar, 2006).
Perkembangbiakan genus Parmelia dengan cara
vegetative dan seksual yaitu(Campbell,2002):
Secara
vegetative
1. Fragmentasi
Perkembangbiakan dengan memisahkan bagian tubuh
yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi individu baru.
2. Isidia
.Isdia lepas dan talus induknya yang masing-
masing mempunyai simbion akan tumbuh menjadi individu baru.
3. Soredia
Kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang
membelah dan diselubungi benang- benang miselium menjadi satu badan yang dapat
terlepas dari induknya
Reproduksi
seksual dengan pembentukan spora yang sepenuhnya bergantung kepada pasangan
jamurnya.
Spesies dari Parmeliaceae, Usneaceae dan
Cladoniaceae merupakan penghasil antibiotik untuk melawan bakteri gram +. Asam
unseat digunakan untuk membasmi Streptococcus haemolyticus, Pneumococcus
bakteri tuberkulosa. Asam barbatat dan asan roselat digunakan untuk membasmi
bakteri tuberkulosa. Manfaatnya dalam lingkungan antara lain sebagai pionir
dalam ekosistem, komunitas awal pada proses suksesi, indikator pencemaran udara( Hidayat, 2006).
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan yang telah dilakukan dan didukung oleh beberapa literature dapat
disimpulkan bahwa:
1.
Tumbuhan
Rendah dari golongan jamur, liken dan
lumut yang berada dihutan cangar masih banyak jenisnya.
2.
Dari
golongan jamur ditemukan beberapa spesies antara lain Amanita
muscaria,Coprinus
sivaticus,Coprinus micacaus,Ausricalpium vulgare, Fusfulina hepatica, Russula
nobilis
3.
Dari golongan liken antara lain Parmelia sulcata, Parmelia sp,Lobaria
pulmonaria
4.
Dari golongan lumut antara lain Marchatia polymorpha, Marchantia sp
4.2 Saran
Penelitian telah berjalan dengan lancar, namun
ada kendala dalam mengidentifikasi spesies, karena banyak spesies yang belum
diketahui namanya.Oleh karena itu, praktikan harus jeli dan teliti dalam
mengidentifikasi agar hasilnya maksimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Birsyam, Inge. L. 1992. Botani Tumbuhan
Rendah. Bandung: ITB
Brooks, Geo F., dkk. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta:
Salemba Medika
Campbell, N.A. 2002. Biology. Jakarta: Erlangga
Entjang, Indan. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi. Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti
Gandjar, Indrawati, dkk. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Hidayat, Otang. 2006. Diktat Botani Cryptogamae. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia
Karim, Murniah. 2007. Biologi. Makassar: UNM Press
Kimball, J.W. 1999. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta:
Erlangga
Latifah, Eva. 2004. Biologi 2. Bandung: Remaja Rosda Karya
Nurlis, Yani. 1998. Biologi Umum. Jakarta: Erlangga
Sulisetjono. 2011. Botani Tumbuhan Lumut. Malang: UIN press
Suwarno. 2009. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press























